ggwp24 – Keputusan penyelenggara Capcom Cup 12 menerapkan sistem pay-per-view mendadak mengubah suasana turnamen yang biasanya jadi “pesta tahunan” komunitas fighting game. Belum sempat bracket penuh berjalan, lini masa para pemain, penonton, hingga komentator sudah panas lebih dulu.
Banyak penggemar merasa langkah ini seperti menutup pintu yang selama ini di biarkan terbuka lebar. Pertandingan yang dulunya tinggal klik dan tonton, kini berada di balik paywall. Sebagian menyebutnya wajar—event besar butuh biaya besar—tapi kelompok yang lebih vokal menilai ini menggerus salah satu fondasi FGC: aksesibilitas. Turnamen Street Fighter, terutama yang levelnya setinggi ini, hidup dari penonton yang datang dari mana saja, bukan dari model siaran eksklusif.
Street Fighter selama bertahun-tahun memiliki reputasi unik dalam esports: komunitasnya keras, loyal, tapi juga sangat inklusif. Siapa pun bisa masuk, ikut menonton, ikut merayakan kemenangan pemain favorit. Itu sebabnya Capcom Cup selalu menjadi momen yang meledak di internet. Dan karena itu pula, keputusan PPV terasa seperti langkah yang di pasang di arah yang berlawanan.
Kekecewaan muncul dari berbagai penjuru. Ada yang khawatir jumlah penonton bakal turun drastis. Ada yang bilang atmosfer turnamen akan kehilangan “keramaian digital” yang biasanya datang dari ratusan ribu penonton gratisan. Ada juga yang menyinggung soal pemain baru—bagaimana mereka bisa jatuh cinta pada skena kalau pintu pertamanya saja mulai di pagari?
Di sisi penyelenggara, kabarnya ini percobaan model monetisasi baru. Produksi Capcom Cup dari tahun ke tahun memang makin ambisius: panggung besar, siaran berkualitas tinggi, hadiah melimpah. Semua itu butuh dana. Dan dana, mau tidak mau, harus datang dari suatu tempat.
Perdebatan masih memantul ke mana-mana: forum, Discord komunitas, kolom komentar YouTube, sampai thread panjang di X. Ada yang marah, ada yang mencoba mencari kompromi, ada juga yang pasrah. Tapi satu harapan yang terus muncul: semoga Capcom mempertimbangkan ulang format PPV ini. Bukan karena orang tidak mau mendukung, tetapi karena FGC tumbuh justru dari keterbukaan—dan banyak yang takut melihat pintu itu perlahan mengecil.
