Harga RAM di jagat maya makin tak masuk akal. Di tengah pasokan yang seret dan kebutuhan terus menanjak, ada saja yang memanfaatkan situasi. Para pemburu untung—alias spekulan—beraksi dengan menaikkan harga jual modul memori hingga belasan bahkan puluhan juta rupiah. Kondisi ini bikin pengguna dan pelaku usaha sama-sama pening.
Isi Berita
Beberapa waktu terakhir, komunitas teknologi ramai membahas satu isu: harga RAM yang melonjak tak karuan. Awalnya, kenaikan harga di anggap biasa—karena memang fluktuasi komponen komputer itu hal yang lazim. Tapi yang terjadi sekarang beda cerita. Lonjakannya luar biasa.
Salah satu yang bikin geger adalah modul memori Trident Z5 Neo RGB DDR5-6000. Dulu, produk ini bisa di dapat di kisaran Rp1,9 juta. Sekarang? Harganya di platform resmi sudah naik jadi sekitar Rp7,5 juta. Itu saja sudah bikin orang mikir dua kali. Tapi yang lebih mencengangkan adalah di lapak lelang luar negeri—harga bisa tembus Rp17 jutaan. Ya, Anda tidak salah baca.
Lebih parah lagi dengan RAM berkapasitas jumbo. Kit 96GB yang dulunya di banderol di bawah Rp8 juta, kini di pasarkan di atas Rp16 juta. Dan lagi-lagi, versi ‘scalper’ dari produk itu bisa menyentuh angka Rp44 juta. Siapa yang sanggup beli?
Kondisi ini jelas bikin pusing bukan cuma pengguna personal, tapi juga para pelaku industri. Vendor PC rakitan seperti Maingear dan CyberPowerPC mulai menyesuaikan harga produk mereka. Dell pun terdampak dan ikut mengatur ulang struktur biaya. Satu-satunya yang masih bisa sedikit ‘santai’ adalah Lenovo—itu pun karena mereka masih punya stok.
Kalau di telisik lebih dalam, ini semua bukan semata soal kelangkaan barang. Permintaan global terhadap RAM melonjak tajam, sebagian besar karena pesatnya penggunaan teknologi berat seperti kecerdasan buatan. Tapi di sisi lain, jalur produksi belum sanggup mengejar. Akibatnya, harga naik, dan ‘pemain-pemain’ pasar mulai bereaksi. Beberapa sah memanfaatkan momen. Tapi ada juga yang kelewatan.
